SEJARAH PERKEMBANGAN KFR DI INDONESIA

Konsep Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR) sudah dikenal dan dipraktekkan sejak jaman dahulu dalam sejarah peradaban umat manusia, tetapi baru berkembang menjadi sebuah profesi dan spesialisasi di abad ke-20.

Selama ribuan tahun, penyakit dan disabilitas diterapi dengan berbagai cara, misalnya terapi cahaya, panas dan dingin (sejak jaman Babilonia di abad ke-10 sebelum Masehi), air (spa, pada jaman Yunani dan Romawi kuno di abad ke-5 sebelum Masehi),3 dan olah raga (catatan tertua tentang olah raga sebagai alat promosi kesehatan atau rehabilitasi berasal dari Cina sekitar 2500 tahun sebelum Masehi).

Sebuah jari kaki palsu ditemukan pada mumi di Mesir yang memberi kesan suatu upaya rehabilitasi sebagai bekal di kehidupan selanjutnya.5 Di bawah ini diuraikan tentang perkembangan KFR sebagai suatu cabang ilmu kedokteran di dunia dan bagaimana awal mula spesialisasi KFR ada di Indonesia.

Sejarah Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Dunia

Layanan terapi fisik dan rehabilitasi secara formal dimulai tahun 1899 di Inggris dan tahun 1921 di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, para spesialis ortopedi merupakan kelompok dokter pertama yang mengenali kebutuhan baru dalam penatalaksanaan kondisi kecacatan, mulai dari fraktur dan dislokasi sampai artritis dan paralisis.

Banyaknya jumlah tentara muda yang cacat setelah Perang Dunia I langsung meningkatkan perhatian karena masalah medis dan sosial akibat disabilitas fisik. Dr. Howard A. Rusk menunjukkan bahwa program rehabilitasi lebih penting untuk memulihkan tentara mencapai kebugaran agar dapat kembali bertugas daripada upaya penyembuhan saja.

Setelah PD I, para ahli ortopedi dari Amerika Serikat mengevaluasi pekerjaan mereka semasa perang yang meliputi rehabilitasi dan tindakan bedah. Mereka ingin berperan lebih jauh daripada sekedar tindakan bedah dan terlibat dalam kesehatan secara umum, penyuluhan dan rehabilitasi vokasional.

Pada tahun 1937, dokter terapi fisik diakui sebagai sebuah spesialisasi kedokteran yang baru. Di Fakultas Kedokteran, bagian ini disebut dengan Department of Physical Medicine. Tahun 1938, istilah fisiatri dicetuskan oleh Dr. Frank H. Krusen. Untuk membedakan mereka dari teknisi yang disebut terapis fisis, profesi baru ini disebut fisiatris (physiatrists).

Istilah fisiatri baru diterima oleh AMA di tahun 1946. Fisiatri atau Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR) diterima secara formal sebagai suatu spesialisasi kedokteran pada tahun 1947 dengan didirikannya the American Board of Physical Medicine and Rehabilitation (ABPMR). Sekarang KFR telah diterima sebagai bagian penting dan integral dalam penatalaksanaan penyakit kronik dan disabilitas. Spesialisiasi KFR, sesuai namanya merupakan gabungan antara ilmu kedokteran fisik dan ilmu rehabilitasi.

Kedokteran Fisik adalah penggunaan modalitas fisik seperti cahaya, panas, dingin, air, listrik, pijat, manipulasi, latihan dan alat-alat mekanik untuk tujuan diagnostik dan terapeutik seperti terapi fisis, terapi okupasional, dan rehabilitasi fisis.

Rehabilitasi merupakan penerapan ilmu kedokteran fisik dan teknik untuk membantu pasien mencapai fungsi maksimal dan penyesuaian dirinya secara fisis, mental, sosial dan vokasional untuk mencapai kehidupan yang lengkap sesuai dengan kemampuan dan disabilitasnya.

Sejarah KFR di Indonesia

Layanan Kedokteran Rehabilitasi di Indonesia dikenal sejak tahun 1947, saat Prof. Dr. R. Soeharso mendirikan Pusat Rehabilitasi untuk penyandang disabilitas yang merupakan korban perang kemerdekaan. Oleh karena tuntutan kebutuhan yang meningkat, maka pada tahun 1973, Menteri Kesehatan mendirikan layanan rehabilitasi di RS Dr. Kariadi Semarang sebagai pilot project yang disebut Preventive Rehabilitation Unit (PRU).

Keberadaan PRU menunjukkan keberhasilan dalam peningkatan layanan kesehatan, mempersingkat masa perawatan di RS, dan mengurangi beban kerja Pusat Rehabilitasi di Surakarta.

Pada masa PELITA II, diterbitkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan No. 134/Yan.Kes/SK/IV/1978 yang menyatakan bahwa semua rumah sakit kelas A, B, dan C harus mengembangkan PRU. Istilah PRU kemudian berubah menjadi Unit Rehabilitasi Medik (URM).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dalam hal ini Menteri Kesehatan menaruh perhatian untuk memajukan layanan Kedokteran Rehabilitasi. Sejalan dengan itu, maka dipikirkan perlunya seorang Dokter dengan kemampuan Spesialisasi Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi untuk memimpin Unit Rehabilitasi Medik (URM).

Dalam rangka meningkatkan layanan Kedokteran Rehabilitasi, Menteri Kesehatan mulai mengirim dokter umum dari Indonesia untuk mengikuti pendidikan menjadi dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Department of Physical Medicine and Rehabilitation, Universitas Santo Tomas di Manila, Filipina. Ada sebelas orang dokter Indonesia yang berhasil menjadi spesialis KFR dari Universitas tersebut. Beberapa dokter juga telah dikirim untuk mengikuti pendidikan di Praha dan di Belanda.

Setelah kembali dari pendidikan, para dokter yang dikenal dengan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik dengan dukungan beberapa Spesialis yang lain sepakat untuk membentuk Ikatan Dokter Ahli Rehabilitasi Medik Indonesia (IDARI) pada tahun 1982, kemudian memperjuangkan eksistensi adanya Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik serta pendidikan keahliannya di Indonesia yang diakui melalui Surat Keputusan Dirjen DIKTI, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 16/DIKTI/Kep/1987.

Ditunjuk tiga pusat pendidikan, yaitu: Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro. Kemudian mendapat pengakuan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 1990. Nama IDARI mengalami perubahan menjadi Perhimpunan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Indonesia (PERDOSRI).

Sejak Kongres Nasional IV diadakan pada tahun 1998 di Jakarta, Ketua PERDOSRI terpilih (alm) Dr. Thamrinsyam, SpRM membentuk Kolegium Kedokteran Fisik dan rehabilitasi sesuai instruksi dari IDI dengan tugas mengawal atau mengampu Pendidikan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Mulai bulan Juli 2009, berdasarkan Surat No. 006/Kol.IKFRI/12/V/2009 gelar lulusan berubah menjadi Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (SpKFR).

Sesuai dengan hasil Muktamar IDI XXVIII tahun 2009 di Palembang perubahan gelar disetujui oleh IDI yang tertuang dalam Surat Nomor 1177/PB/B/09/2010 tanggal 2 September 2010 tentang Perubahan Gelar SpRM menjadi SpKFR.